Please use this identifier to cite or link to this item: http://hdl.handle.net/10497/19972
Title: 
Authors: 
Issue Date: 
1-Sep-1977
Citation: 
Muhammad Ariff Ahmad. (1977, September 1). Tahyul sebagai kebiasaan kebudayaan [Superstition as a cultural habit; Radio broadcast transcript]. In Sari Budaya. Radio and Television of Singapore (RTS). https://hdl.handle.net/10497/19972
Abstract: 
Transkrip mengenai "Tahyul sebagai kebiasaan kebudayaan" ini disiapkan untuk siaran rancangan Sari Budaya di Radio Singapura. Menurut penulis, tahyul ialah angan-angan yang dikhayalkan dalam fikiran manusia. Abdullah Munshi mentafsirkan tahyul sebagai 'kepercayaan anak-anak Melayu yang sia-sia lagi bodoh'. Kepercayaan merupakan satu daripada tujuh unsur universal kebudayaan atau yang disebut sebagai 'cultural universal'. Kepercayaan-kepercayaan seperti dongeng-dongeng rakyat, yang ada hubungannya dengan perkembangan fikiran masyarakat nenek-moyang memang ada dalam kebudayaan banyak bangsa manusia. Malah setengah-setengahnya menjadi kemegahan masyarakat penganut kebudayaan itu. Kisah-kisah tentang kegagahan, kesaktian dan kebolehan luarbiasa makhluk-makhluk ghaib telah mengagumkan nenek-moyang kita di zaman primitif sehingga kekaguman itu diangkat ke tahap pemujaan. Sebelum menerima ajaran agama, pemujaan itu menjadi bentuk pengabdian atau ibadat manusia terhadap makhluk-makhluk itu. Penulis menjelaskan beberapa contoh tahyul yang telah diturunkan oleh nenek-moyang kita. Banyak tahyul yang setelah dinilai semula didapati tidak bermanfaat lagi dalam kehidupan kita lalu ditinggalkan. Namun, masih ada lagi tahyul yang bertentangan dengan ajaran Islam yang masih dipercayai. Beliau berpendapat yang sikap fanatik terhadap kebudayaan tidak memperkembangkan kebudayaan malah menjadikannya statis atau beku. Menurut penulis, untuk menjadi bangsa atau masyarakat yang maju, nilai kepercayaan bangsa mestilah maju. Kebudayaan yang statis itu tidak maju dan sikap fanatik terhadap kebudayaan menghalang kemajuan kebudayaan itu sendiri.

This transcript on "Superstition as a cultural habits" is written for a cultural program Sari Budaya aired on Radio Singapore. According to the author, superstition is a belief in nonsensical things created by delusions of the human mind. Abdullah Munshi interpreted superstition as the beliefs of Malay people which are useless and stupid. Belief is one of the seven elements of a cultural universal. Folk tales, as an example, exist in many cultures; some even became the pride of the people of the culture. Tales about bravery, magical and exceptional abilities of supernatural beings have always impressed our ancestors living in the primitive stage. Before the community received Islam, their devotion towards these superstitious beings alevated to human worshipping. The writer gave and explain some examples of superstitions which were brought down from our ancestors. Many superstitions which are no longer relevant to our lives have been abandoned. But there are still superstitions that lived on even though they go against the teachings of Islam. The writer believes that being fanatic to one's culture does not contibute to cultural progress but instead turns it into static and inflexible state. To become a progressive nation or society, our cultural values must be progressive. A static culture is not progressive, and fanaticism towards the culture prevents the cultural progress.
URI: 
File Permission: 
Open
File Availability: 
With file
Appears in Collections:Radio Broadcast Transcripts

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
MAS-UM-5.pdf531.14 kBAdobe PDFThumbnail
View/Open
Show full item record

Page view(s) 5

313
checked on Sep 25, 2022

Download(s) 50

50
checked on Sep 25, 2022

Google ScholarTM

Check


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.